10 Juni 2021

Manusia itu irasional, ketika...

Sebagai seorang yang senang belajar, dan saat ini masih belajar formal di kampus UB, perilaku dan sikap yang diambil beberapa orang terkait COVID-19 masih membuat saya bingung.

Dengan sedemikan banyaknya korban meninggal yang sudah ada (bahkan mungkin terjadi pada orang-orang dekat kita), mengapa masih ada yang tidak mempercayai atau setidaknya tidak mau mengikuti anjuran protokol kesehatan yang disampaikan para ahli dibidang ini? Hmmm

Meski tidak belajar spesifik tentang ilmu perilaku individu, tapi lebih ke arah perilaku organisasi, fenomena ini menarik untuk direnungkan.

Pertanyaan: mengapa masih ada yang tidak percaya atau bahkan menolak (keras) anjuran protokol/kebijakan kesehatan yang dirumuskan ahli di bidang kesehatan masyarakat/virology/kebijakan publik?

Salah satu penjelasan yang menarik sepertinya bisa diambil dari perpektif pengambilan keputusan (decision making).

Manusia menganggap dirinya sebagai mahluk yang rasional. Tapi ternyata, penelitian menunjukkan bahwa manusia hanya rasional sebatas kemampuan yang ia miliki, bahasa kerennya bounded rationality. Maksudnya, pengambilan keputusannya bisa jadi jauh/melenceng dari rasional karena dipengaruhi bias sistemik, emosi, motivasi, framing, dst.

Ada banyak bias yang mempengaruhi bagaiman seseorang mengambil keputusan/berperilaku/bersikap. Saya coba angkat satu saja, yaitu confirmation bias. 

Sebagai manusia, kita senang mencoba mencari konfirmasi dari banyaknya informasi yang tersedia, melakukan penyaringan terhadap informasi yang akan ‘masuk’ ke dalam diri kita. Tentunya informasi yang sesuai dengan konsepsi awal pemikiran kita.

Hal ini diperparah oleh kemudahan akses pemberitaan/informasi hoax dan algoritma media sosial yang memunculkan informasi-informasi yang sesuai dengan keinginan/selera/preferensi kita.

Dibombardir dengan informasi (hoax) yang dengan konten yang sama terus menerus, kita akan menganggap berita itu benar.

Dan professor di bidang psikologi juga mengingatkan bahwa ketika dihadapkan pada informasi yang bertentangan dengan pendapat bias yang kita pegang, kemampuan intelektual kita akan cenderung dikalahkan.

Maka tidak heran sebetulnya, jika masih ada orang-orang yang sepertinya intelektual tapi tidak percaya COVID-19 atau tidak mau mematuhi protokol kesehatan.

Hati-hati akan bias-bias dalam pengambilan keputusan, sadari ketika ia hadir dalam proses berpikir logis dan kritis yang (seharusnya) kita ambil.


---000---

Depok, 5 Mei 2021

Syamsul Arifin, SKM. MKKK.

Postingan terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar