26 Maret 2026

Pemimpin yang Menipu Nuraninya Sendiri

Jumat sore, banyak pekerja kantor melakukan “teng-go” (pulang tepat waktu), termasuk Yusuf. Ia terngiang janji untuk berkumpul selepas waktu kerja di sebuah coffee shop bersama dua kawan yang ia kenal sewaktu mengikuti kelas kepemimpinan dari INSEAD.

Matahari masih terang ketika dilangkahkan kakinya memasuki kedai kopi kekinian dengan interior yang modern namun tetap homy dan cozy. Jujur Yusuf tidak paham banyak hal mengenai perkopian, namun yang ia tahu, tempat ini memberikan beragam variasi minuman, dari yang menggunakan mesin espreso sampai manual brewing. Surga bagi para pecandu kafein dan tempat nongkrong yang asyik bagi social drinker macam dirinya.

“Hi Alex! Maaf baru datang,” dia lambaikan tangan ke pria sebaya yang sedang duduk membolak-balik menu.

“Hi, tidak apa-apa, saya juga baru sampai kok,” balasnya.

Yusuf memposisikan duduk di sofa loveseat berseberangan dengan Alex yang duduk di arm chair. Selagi mereka memesan minuman, datang rekan mereka yang lainnya dengan raut muka yang masam ikut duduk bergabung.

“Haduh, maaf tadi nyangkut di kantor. Saya harus menangani laporan insiden terlebih dahulu, seorang pekerja lapangan terjepit jarinya di mesin pabrik. Sepertinya ia akan kehilangan satu atau dua jari kanannya,” mukanya tampak kesal, “heran, kok bisa ya ada orang sebodoh itu, sudah tahu ada benda berputar, mengapa memasukkan tangannya ke situ sih! Dasar ceroboh, tidak kompeten, serampangan!” selorohnya sembari mengumpat.

Kedua temannya menggelengkan kepala, tersenyum masam, sambil memintanya memesan minuman dulu, Budi, si kawan yang baru datang itu memesan kopi dingin cold brew untuk menyejukkan hati.

Budi belum lama diangkat sebagai senior manager operasional, pekerja keras dan rising star di perusahaannya. Alex di sisi lain, lama malang melintang di human resource dengan jabatan manajer industrial relation yang mengelola urusan kepegawaian di perusahaan manufaktur. Sementara Yusuf, praktisi Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lindungan Lingkungan (K3LH) di industri pertambangan. Ketiganya bekerja pada perusahaan yang berbeda namun memiliki satu kesamaan minat, senang berkumpul untuk saling belajar bersama.

“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Alex.

“Sedang ditangani pihak RS,” jawab Budi singkat.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga tidak parah dan ia bisa segera sembuh,” sahut Yusuf.

“Dia belum meninggal Yusuf, kok innalilahi sih?” lanjut Alex.

“Ucapan istirja atau ‘innalilahi’ bukan cuma disematkan bagi orang yang meninggal, tapi kalau ditimpa musibah secara umum, bahkan untuk musibah ringan semisal putusnya tali sandal, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW,” timpal Yusuf disambut anggukan ringan temannya.

“Lantas apa yang akan kau lakukan Bud?” Alex mengembalikan topik perbincangan.

“Entahlah, backlog pesanan sedang tinggi-tingginya, sebetulnya kecelakaan ini membuat penundaan yang tidak bisa saya tolerir,” Budi melepas jaket, “saya akan cari tahu siapa yang bersalah dalam kejadian, seberapa besar kesalahannya, dan apa hukuman yang setimpal dengan kesalahannya, sepertinya itu adil. Bisa jadi akan ada surat peringatan yang melayang kepada semua pekerja yang terlibat, agar mereka lebih berhati-hati lagi lain kali.”

“Hey, sebaiknya kamu jangan berbuat langsung seperti itu. Coba tanya Yusuf nih, apa yang seharusnya dilakukan,” sergah Alex sambil menoleh ke Yusuf, “lebih baik kamu menyetop produksi untuk sementara waktu, menginvestigasi secara menyeluruh kejadiannya sampai didapatkan akar permasalah sebenarnya, agar proses produksi dapat dipastikan bisa dilanjut dengan selamat.”

Tidak siap dengan umpan Alex, Yusuf tersedak dengan minumannya. “Saya sepakat dengan usulan Alex,” timpalnya, “sepertinya kamu makin mahir Lex dengan peraturan perundangan dan praktik keselamatan kerja ya.”

“Itu sepertinya akibat diskusi terakhir kita mengenai Environmental, Social, and Corporate Governance (ESG) dimana dirimu menjabarkan mengenai aspek Safety and Health dengan komprehensif,” Budi menimpali.

Alunan genre musik indie pop cocok mengiringi suasana sore itu. Di ufuk barat, mentari perlahan turun ke peraduannya, memancarkan cahaya jingga kemerahan yang magis memanjakan mata.

“Kamu tidak boleh langsung menyalahkan pekerja Bud,” tambah Yusuf, “belum tentu dia yang salah. Bisa jadi kamu juga punya peran kesalahan di kejadian itu.”

“Saya? Kenapa jadi saya yang disalahkan?” tukas Budi cepat.

“Begini, baru-baru ini saya baca buku dari The Arbinger Institute berjudul Leadership and Self-Deception, isinya menurut saya sangat menarik. Sepertinya bisa kita jadikan topik untuk sharing kita sore ini,” Yusuf melanjutkan ucapan.

“Boleh juga tuh, sepertinya bagus, seperti apa isinya?” keingintahuan Alex mulai terpancing.

“OK, saya akan mempergunakan contoh dari kehidupan saya, yang sepertinya relevan dengan pesan yang ingin disampaikan buku itu.”

“Kalian kan tahu ya, anak pertama saya kembar,” pikiran Yusuf melayang ke Hanah dan Sarah, yang usianya sudah tujuh tahun sekarang ini.

“Ketika di awal-awal kelahiran, memiliki anak kembar itu memiliki tantangan yang sangat besar. Mereka itu lucu di foto, tapi tidak begitu lucu ketika kamu yang harus mengasuhnya, terutama di periode awal kehidupan mereka. Apalagi kami -Yusuf dan istri- waktu itu sedang merantau di Samarinda, jauh dari kedua orang tua kami sebagai dukungan sistem sosial.”

Load pekerjaan sedang tinggi-tinggi, lagi ada proyek bernilai tinggi yang bisa make or break -penentu- karirku”

“Agar dapat memahami konteks cerita ini, perlu saya tambahkan juga, kami belum punya pembantu atau pengasuh anak,” Yusuf menyambung ceritanya, “saat lelap tertidur dalam kondisi letih, setelah sebelumnya di malam itu juga telah berbagi peran dengan istri, yang mana si kembar baru mulai tertidur di tengah malam, saya mendengar suara salah satu dari mereka menangis.”

“Hati nuraniku berkata ‘bangun dan lihatlah apa yang bisa kamu perbuat pada anakmu, sehingga istrimu bisa tetap melanjutkan tidurnya’, namun apa yang kulakukan? Alih-alih beranjak bangun dan mengecek apa yang diperlukan anak kami, menggantikan peran istriku setelah ia yang seharian mengasuhnya, saya tetap diam di tempat tidur, membiarkan anakku terus meraung.” Yusuf merogoh puplen dari dalam tas, mulai mencoret-coret di kertas tisu yang cukup tebal di atas meja kayu.


“Ketika itu, saya memiliki dua pilihan: mengikuti kata hatiku untuk bangun dan menenangkan bayi kembarku, atau menghianati nuraniku.”

“Ketika saya menghianati hati nurani dengan tetap diam di tempat tidur sementara itu ada istri yang berada disampingku. Apa yang mulai terpikir di otakku saat itu?” tanyaku pada mereka berdua.

“Dirimu mungkin berpikir bahwa istrimu sedang berpura-pura tidur lelap, berusaha mengelabuhimu, agar kamu yang bangun bukan dia,” jawab Alex ragu.

“Tidak pengertian, tidak sensitif terhadap suami yang sudah capek mencari uang,” Budi menanggapi.

“Apalagi saya juga sudah menyampaikan ke istri, kalau besok pagi, saya ada presentasi yang sangat penting dengan top manajemen terkait perkembangan proyek,” Yusuf menambahi.

“Kamu mungkin akan mencap istrimu sebagai wanita pemalas, istri dan ibu yang payah kali,” sahut Alex, “padahal saya tahu istrimu tidak seperti itu, kita kan sudah berteman sejak kuliah S1 dulu.”

“Kamu benar. Saya melihat istri saya dengan pandangan negatif, sebagai justifikasi prasangka buruk yang mulai berkembang di otak saya. Namun, hal ini akan menjadi semakin buruk lagi,” ada jeda sesaat sebelum ia kembali bertanya, “bagaimana kira-kira saya memandang diri saya sendiri?”

“Sebagai pencari nafkah tunggal di keluarga, kamu sudah berusaha semaksimal mungkin menjadi ayah dan suami yang baik karena masih membantu istrimu di rumah setelah lelah dengan pekerjaan di kantor,” Alex kembali merespons.

“Bisa jadi kamu melihat dirimu sebagai korban karena harus berurusan dengan istri dengan karakter seperti itu. Tidak bisa mendapatkan waktu istirahat cukup sehingga bisa mengacaukan presentasi pentingmu besok pagi,” Budi menukas.

Yusuf kembali menambahi coretan flow chart pada tisu, “analogi cerita itu bisa menjelaskan, bahwa kita mulai memandang buruk orang lain dan lebih membesar-besarkan diri atau kepentingan diri, ketika kita mulai menipu diri sendiri atau self-deception.”

“Kata buku itu, masalah terbesar dalam organisasi adalah penipuan diri sendiri yang dilakukan oleh para pemimpin. Hal itu terjadi ketika mereka tidak melakukan apa yang mereka harus lakukan. Yang saya maksud ‘harus’ disini adalah hal-hal yang mestinya dilakukan dengan memperhatikan kode etik, nilai moral, nilai agama. Semisal memperlakukan orang lain atau pekerja sebagai manusia, nguwongke uwong.”

“Sekarang kita kembali ke cerita Budi. Ketika ada kecelakaan pada pekerja sehingga ia bisa jadi kehilangan jari tangan dominannya, yang biasa ia pakai untuk bekerja, bagaimana sebetulnya hati nuranimu merespon Budi?” Yusuf menatap Budi dalam-dalam. Ada jeda panjang di tengah mereka.

“Sejujurnya, saya merasa kasihan, simpati, mau menolong, tapi bingung apa,” Budi merundukkan wajah.

“Praktik umum seperti yang telah kamu sebutkan sebelumnya disebut ‘retributive just culture’. Dicari tahu peraturan apa yang telah dilanggar, siapa yang melanggarnya, seberapa besar kesalahan, dan apa hukuman atau balasan (retribution) yang setimpal. Di zaman now, praktik yang seharusnya dibudayakan adalah ‘restorative just culture’. Dicari siapa saja yang terluka, apa yang mereka butuhkan, siapa yang harus memenuhi kebutuhan tersebut, dan apa yang bisa kita pelajari dari kejadian tersebut. Disebut restorative karena diharapkan mampu mengembalikan, menyegarkan, bahkan memperkuat kondisi yang ada.” Yusuf menyambung penjelasannya.

“Kembali ke coretan ini,” ujar Yusuf sembari menunjukkan tisu yang penuh coretan, “ketika dirimu mengkhianati suara nuranimu, yang selanjutnya terjadi adalah kamu mulai menipu dirimu sendiri, terjadi self-deception. Dibangunlah narasi palsu yang merasionalkan tindakan yang kamu ambil. Dirimu baru mulai menyalahkan pekerja, mencap mereka bodoh, ceroboh, tidak perhatian atau hati-hati, tidak kompeten, dan seterusnya. Padahal kalau kita mau obyektif, tidak ada pekerja yang datang ke tempat kerja dengan keinginan mau celaka, apalagi sampai kehilangan jari tangan, mereka mau menyelesaikan tugas dengan segala keterbatasan sumber daya yang ada. Menurut HSE UK, faktor pekerjaan (job factor) dan faktor organisasi (organizational factor) mempengaruhi kinerja manusia, bukan hanya semata pada faktor individu (individual factor).”

“Kamu harus jujur dan berani memegang teguh kompas moralmu berupa kode etik, prinsip kemanusiaan, nilai agama, hal-hal yang bisa kamu memandumu dalam mengambil keputusan dan bertindak,” tutup Yusuf.

“Yah, sepertinya aku mulai kehilangan north star-ku,” Budi menggunakan istilah north star, sang polaris - bintang utara yang paling terang, biasa digunakan para pelaut sebagai navigasi dalam pelayaran.

“Kamu pemimpin hebat Budi, syukurnya kamu bukan orang yang sombong. Self-deception ini akan semakin menjadi pada orang yang sombong. Sombong bukan berarti memakai pakaian, sepatu, tas, mobil yang bagus, tapi sombong berarti menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya; lebih bodoh, tidak peduli, lebih rendah, lebih tidak penting, dan sukar menerima kebenaran. Jika dihadapkan pada kebenaran, kamu mau berhenti, mengevaluasi, dan menerima kalau itu memang hal yang benar,” Yusuf menyemangati.

“Kecelakaan atau kegagalan bukan hal yang buruk, ia adalah kesempatan untuk belajar dan memperbaiki sistem kerja menjadi lebih baik, lebih tangguh, dan lebih selamat buat operasional di kemudian hari,” Alex menimpali.

“OK kalau begitu, saya perlu cabut duluan. Kalian yang bayarin dulu ya, saya ada urusan yang harus segera diselesaikan!” secercah inspirasi memenuhi Budi. Ia bergegas keluar kedai kopi, meninggalkan kedua temannya yang tersenyum sumringah.

“Mau kemana?” sahut Yusuf.

“Memperbaiki kesalahan. Membersihkan hati nurani. Merestorasi!” Budi bersemangat setengah berlari menuju mobil sport yang diparkir di luar tergesa-gesa menuju Rumah Sakit tempat pekerjanya dirawat. Terburu-buru menjadi dirinya sendiri lagi. Pemimpin yang mau jujur pada hati nurani.

 

 

---000---

 

Penyusun:

Syamsul Arifin, SKM. MKKK. Grad IOSH.

Praktisi K3 dan Mahasiswa S3 Ilmu Manajemen Universitas Brawijaya Jakarta.

 

Referensi:

The Arbinger Institute. 2018. Leadership and Self-Deception: Getting Out of the Box. Berrett-Koehler Publishers

Dekker, Sidney. 2017. Just culture: restoring trust and accountability in your organization. CRC Press

Health and Safety Executive, Inggris (HSE UK). 1999. Reducing Error And Influencing Behaviour. TSO (The Stationery Office).


Tulisan ini dimuat juga di Buletin Kepemimpinan & Organisasi, Universitas Brawijaya, edisi Desember 2025:

Postingan terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar