Jumat sore, banyak pekerja kantor melakukan “teng-go” (pulang tepat waktu), termasuk Yusuf. Ia terngiang janji untuk berkumpul selepas waktu kerja di sebuah coffee shop bersama dua kawan yang ia kenal sewaktu mengikuti kelas kepemimpinan dari INSEAD.
Matahari masih terang ketika dilangkahkan kakinya memasuki
kedai kopi kekinian dengan interior yang modern namun tetap homy dan cozy. Jujur Yusuf tidak paham banyak hal mengenai perkopian, namun
yang ia tahu, tempat ini memberikan beragam variasi minuman, dari yang
menggunakan mesin espreso sampai manual
brewing. Surga bagi para pecandu kafein dan tempat nongkrong yang asyik
bagi social drinker macam dirinya.
“Hi Alex! Maaf baru datang,” dia lambaikan tangan ke pria
sebaya yang sedang duduk membolak-balik menu.
“Hi, tidak apa-apa, saya juga baru sampai kok,” balasnya.
Yusuf memposisikan duduk di sofa loveseat berseberangan dengan Alex yang duduk di arm chair. Selagi mereka memesan
minuman, datang rekan mereka yang lainnya dengan raut muka yang masam ikut
duduk bergabung.
“Haduh, maaf tadi nyangkut
di kantor. Saya harus menangani laporan insiden terlebih dahulu, seorang
pekerja lapangan terjepit jarinya di mesin pabrik. Sepertinya ia akan
kehilangan satu atau dua jari kanannya,” mukanya tampak kesal, “heran, kok bisa
ya ada orang sebodoh itu, sudah tahu ada benda berputar, mengapa memasukkan
tangannya ke situ sih! Dasar ceroboh, tidak kompeten, serampangan!” selorohnya
sembari mengumpat.
Kedua temannya menggelengkan kepala, tersenyum masam, sambil
memintanya memesan minuman dulu, Budi, si kawan yang baru datang itu memesan
kopi dingin cold brew untuk
menyejukkan hati.
Budi belum lama diangkat sebagai senior manager operasional,
pekerja keras dan rising star di
perusahaannya. Alex di sisi lain, lama malang melintang di human resource dengan jabatan manajer industrial relation yang mengelola urusan kepegawaian di perusahaan
manufaktur. Sementara Yusuf, praktisi Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lindungan
Lingkungan (K3LH) di industri pertambangan. Ketiganya bekerja pada perusahaan
yang berbeda namun memiliki satu kesamaan minat, senang berkumpul untuk saling
belajar bersama.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Alex.
“Sedang ditangani pihak RS,” jawab Budi singkat.
“Inna lillahi wa inna
ilaihi raji’un. Semoga tidak parah dan ia bisa segera sembuh,” sahut Yusuf.
“Dia belum meninggal Yusuf, kok innalilahi sih?” lanjut Alex.
“Ucapan istirja
atau ‘innalilahi’ bukan cuma
disematkan bagi orang yang meninggal, tapi kalau ditimpa musibah secara umum,
bahkan untuk musibah ringan semisal putusnya tali sandal, seperti yang
dicontohkan Nabi Muhammad SAW,” timpal Yusuf disambut anggukan ringan temannya.
“Lantas apa yang akan kau lakukan Bud?” Alex mengembalikan
topik perbincangan.
“Entahlah, backlog pesanan
sedang tinggi-tingginya, sebetulnya kecelakaan ini membuat penundaan yang tidak
bisa saya tolerir,” Budi melepas jaket, “saya akan cari tahu siapa yang
bersalah dalam kejadian, seberapa besar kesalahannya, dan apa hukuman yang
setimpal dengan kesalahannya, sepertinya itu adil. Bisa jadi akan ada surat
peringatan yang melayang kepada semua pekerja yang terlibat, agar mereka lebih
berhati-hati lagi lain kali.”
“Hey, sebaiknya kamu jangan berbuat langsung seperti itu. Coba
tanya Yusuf nih, apa yang seharusnya dilakukan,” sergah Alex sambil menoleh ke
Yusuf, “lebih baik kamu menyetop produksi untuk sementara waktu,
menginvestigasi secara menyeluruh kejadiannya sampai didapatkan akar permasalah
sebenarnya, agar proses produksi dapat dipastikan bisa dilanjut dengan selamat.”
Tidak siap dengan umpan Alex, Yusuf tersedak dengan
minumannya. “Saya sepakat dengan usulan Alex,” timpalnya, “sepertinya kamu
makin mahir Lex dengan peraturan perundangan dan praktik keselamatan kerja ya.”
“Itu sepertinya akibat diskusi terakhir kita mengenai Environmental,
Social, and Corporate Governance (ESG) dimana dirimu menjabarkan mengenai aspek
Safety and Health dengan komprehensif,” Budi menimpali.
Alunan genre musik indie pop cocok mengiringi suasana sore
itu. Di ufuk barat, mentari perlahan turun ke peraduannya, memancarkan cahaya
jingga kemerahan yang magis memanjakan mata.
“Kamu tidak boleh langsung menyalahkan pekerja Bud,” tambah
Yusuf, “belum tentu dia yang salah. Bisa jadi kamu juga punya peran kesalahan
di kejadian itu.”
“Saya? Kenapa jadi saya yang disalahkan?” tukas Budi cepat.
“Begini, baru-baru ini saya baca buku dari The Arbinger
Institute berjudul Leadership and Self-Deception, isinya menurut saya sangat
menarik. Sepertinya bisa kita jadikan topik untuk sharing kita sore ini,” Yusuf melanjutkan ucapan.
“Boleh juga tuh, sepertinya bagus, seperti apa isinya?”
keingintahuan Alex mulai terpancing.
“OK, saya akan mempergunakan contoh dari kehidupan saya, yang
sepertinya relevan dengan pesan yang ingin disampaikan buku itu.”
“Kalian kan tahu ya, anak pertama saya kembar,” pikiran Yusuf
melayang ke Hanah dan Sarah, yang usianya sudah tujuh tahun sekarang ini.
“Ketika di awal-awal kelahiran, memiliki anak kembar itu
memiliki tantangan yang sangat besar. Mereka itu lucu di foto, tapi tidak
begitu lucu ketika kamu yang harus mengasuhnya, terutama di periode awal
kehidupan mereka. Apalagi kami -Yusuf dan istri- waktu itu sedang merantau di
Samarinda, jauh dari kedua orang tua kami sebagai dukungan sistem sosial.”
“Load pekerjaan
sedang tinggi-tinggi, lagi ada proyek bernilai tinggi yang bisa make or break -penentu- karirku”
“Agar dapat memahami konteks cerita ini, perlu saya tambahkan
juga, kami belum punya pembantu atau pengasuh anak,” Yusuf menyambung
ceritanya, “saat lelap tertidur dalam kondisi letih, setelah sebelumnya di
malam itu juga telah berbagi peran dengan istri, yang mana si kembar baru mulai
tertidur di tengah malam, saya mendengar suara salah satu dari mereka menangis.”
“Hati nuraniku berkata ‘bangun dan lihatlah apa yang bisa kamu perbuat pada anakmu, sehingga istrimu bisa tetap melanjutkan tidurnya’, namun apa yang kulakukan? Alih-alih beranjak bangun dan mengecek apa yang diperlukan anak kami, menggantikan peran istriku setelah ia yang seharian mengasuhnya, saya tetap diam di tempat tidur, membiarkan anakku terus meraung.” Yusuf merogoh puplen dari dalam tas, mulai mencoret-coret di kertas tisu yang cukup tebal di atas meja kayu.
“Ketika itu, saya memiliki dua pilihan: mengikuti kata hatiku untuk bangun dan menenangkan bayi kembarku, atau menghianati nuraniku.”
“Ketika saya menghianati hati nurani dengan tetap diam di
tempat tidur sementara itu ada istri yang berada disampingku. Apa yang mulai
terpikir di otakku saat itu?” tanyaku pada mereka berdua.
“Dirimu mungkin berpikir bahwa istrimu sedang berpura-pura
tidur lelap, berusaha mengelabuhimu, agar kamu yang bangun bukan dia,” jawab
Alex ragu.
“Tidak pengertian, tidak sensitif terhadap suami yang sudah
capek mencari uang,” Budi menanggapi.
“Apalagi saya juga sudah menyampaikan ke istri, kalau besok
pagi, saya ada presentasi yang sangat penting dengan top manajemen terkait
perkembangan proyek,” Yusuf menambahi.
“Kamu mungkin akan mencap istrimu sebagai wanita pemalas,
istri dan ibu yang payah kali,” sahut
Alex, “padahal saya tahu istrimu tidak seperti itu, kita kan sudah berteman
sejak kuliah S1 dulu.”
“Kamu benar. Saya melihat istri saya dengan pandangan negatif,
sebagai justifikasi prasangka buruk yang mulai berkembang di otak saya. Namun,
hal ini akan menjadi semakin buruk lagi,” ada jeda sesaat sebelum ia kembali bertanya,
“bagaimana kira-kira saya memandang diri saya sendiri?”
“Sebagai pencari nafkah tunggal di keluarga, kamu sudah
berusaha semaksimal mungkin menjadi ayah dan suami yang baik karena masih
membantu istrimu di rumah setelah lelah dengan pekerjaan di kantor,” Alex
kembali merespons.
“Bisa jadi kamu melihat dirimu sebagai korban karena harus
berurusan dengan istri dengan karakter seperti itu. Tidak bisa mendapatkan
waktu istirahat cukup sehingga bisa mengacaukan presentasi pentingmu besok
pagi,” Budi menukas.
Yusuf kembali menambahi coretan flow chart pada tisu, “analogi cerita itu bisa menjelaskan, bahwa
kita mulai memandang buruk orang lain dan lebih membesar-besarkan diri atau
kepentingan diri, ketika kita mulai menipu diri sendiri atau self-deception.”
“Kata buku itu, masalah terbesar dalam organisasi adalah
penipuan diri sendiri yang dilakukan oleh para pemimpin. Hal itu terjadi ketika
mereka tidak melakukan apa yang mereka harus lakukan. Yang saya maksud ‘harus’
disini adalah hal-hal yang mestinya dilakukan dengan memperhatikan kode etik,
nilai moral, nilai agama. Semisal memperlakukan orang lain atau pekerja sebagai
manusia, nguwongke uwong.”
“Sekarang kita kembali ke cerita Budi. Ketika ada kecelakaan
pada pekerja sehingga ia bisa jadi kehilangan jari tangan dominannya, yang
biasa ia pakai untuk bekerja, bagaimana sebetulnya hati nuranimu merespon
Budi?” Yusuf menatap Budi dalam-dalam. Ada jeda panjang di tengah mereka.
“Sejujurnya, saya merasa kasihan, simpati, mau menolong, tapi
bingung apa,” Budi merundukkan wajah.
“Praktik umum seperti yang telah kamu sebutkan sebelumnya
disebut ‘retributive just culture’. Dicari
tahu peraturan apa yang telah dilanggar, siapa yang melanggarnya, seberapa
besar kesalahan, dan apa hukuman atau balasan (retribution) yang setimpal. Di zaman now, praktik yang seharusnya dibudayakan adalah ‘restorative just culture’. Dicari siapa saja
yang terluka, apa yang mereka butuhkan, siapa yang harus memenuhi kebutuhan
tersebut, dan apa yang bisa kita pelajari dari kejadian tersebut. Disebut restorative karena diharapkan mampu
mengembalikan, menyegarkan, bahkan memperkuat kondisi yang ada.” Yusuf
menyambung penjelasannya.
“Kembali ke coretan ini,” ujar Yusuf sembari menunjukkan tisu
yang penuh coretan, “ketika dirimu mengkhianati suara nuranimu, yang
selanjutnya terjadi adalah kamu mulai menipu dirimu sendiri, terjadi self-deception. Dibangunlah narasi palsu
yang merasionalkan tindakan yang kamu ambil. Dirimu baru mulai menyalahkan
pekerja, mencap mereka bodoh, ceroboh, tidak perhatian atau hati-hati, tidak
kompeten, dan seterusnya. Padahal kalau kita mau obyektif, tidak ada pekerja
yang datang ke tempat kerja dengan keinginan mau celaka, apalagi sampai
kehilangan jari tangan, mereka mau menyelesaikan tugas dengan segala
keterbatasan sumber daya yang ada. Menurut HSE UK, faktor pekerjaan (job factor) dan faktor organisasi (organizational factor) mempengaruhi
kinerja manusia, bukan hanya semata pada faktor individu (individual factor).”
“Kamu harus jujur dan berani memegang teguh kompas moralmu
berupa kode etik, prinsip kemanusiaan, nilai agama, hal-hal yang bisa kamu
memandumu dalam mengambil keputusan dan bertindak,” tutup Yusuf.
“Yah, sepertinya aku mulai kehilangan north star-ku,” Budi menggunakan istilah north star, sang polaris - bintang utara yang paling terang, biasa
digunakan para pelaut sebagai navigasi dalam pelayaran.
“Kamu pemimpin hebat Budi, syukurnya kamu bukan orang yang
sombong. Self-deception ini akan
semakin menjadi pada orang yang sombong. Sombong bukan berarti memakai pakaian,
sepatu, tas, mobil yang bagus, tapi sombong berarti menganggap orang lain lebih
rendah dari dirinya; lebih bodoh, tidak peduli, lebih rendah, lebih tidak
penting, dan sukar menerima kebenaran. Jika dihadapkan pada kebenaran, kamu mau
berhenti, mengevaluasi, dan menerima kalau itu memang hal yang benar,” Yusuf
menyemangati.
“Kecelakaan atau kegagalan bukan hal yang buruk, ia adalah
kesempatan untuk belajar dan memperbaiki sistem kerja menjadi lebih baik, lebih
tangguh, dan lebih selamat buat operasional di kemudian hari,” Alex menimpali.
“OK kalau begitu, saya perlu cabut duluan. Kalian yang
bayarin dulu ya, saya ada urusan yang harus segera diselesaikan!” secercah
inspirasi memenuhi Budi. Ia bergegas keluar kedai kopi, meninggalkan kedua
temannya yang tersenyum sumringah.
“Mau kemana?” sahut Yusuf.
“Memperbaiki kesalahan. Membersihkan hati nurani.
Merestorasi!” Budi bersemangat setengah berlari menuju mobil sport yang diparkir di luar tergesa-gesa
menuju Rumah Sakit tempat pekerjanya dirawat. Terburu-buru menjadi dirinya
sendiri lagi. Pemimpin yang mau jujur pada hati nurani.
---000---
Penyusun:
Syamsul Arifin,
SKM. MKKK. Grad IOSH.
Praktisi K3
dan Mahasiswa S3 Ilmu Manajemen Universitas Brawijaya Jakarta.
Referensi:
The Arbinger Institute. 2018. Leadership and Self-Deception: Getting Out of the Box. Berrett-Koehler
Publishers
Dekker, Sidney. 2017. Just culture: restoring trust and accountability in your organization.
CRC Press
Health and Safety Executive, Inggris (HSE UK). 1999.
Reducing Error And Influencing Behaviour.
TSO (The Stationery Office).
Tulisan ini dimuat juga di Buletin Kepemimpinan & Organisasi, Universitas Brawijaya, edisi Desember 2025:




