Istilah resilience bukanlah barang baru. Dulu sekali, istilah ini digunakan untuk menggambarkan kemampuan kayu yang tidak patah/mampu menahan hentakan beban yang mendadak.
Pada 1973, Holling menggunakan kata resilience untuk ekosistem yang mampu bertahan/hidup ditengah perubahan yang menerpa. Kemampuan untuk menjaga ekuilibrium ketika ada gangguan sementara.Di 2007, psikolog menggunakan terminologi resilience sebagai kapasitas seseorang untuk melalui situasi traumatis dan membuka lembaran baru.
Di abad 21-an, konsep resilience diserap komunitas manajemen, menggambarkan kemampuan dinamis perusahaan dalam menciptakan ulang model dan strategi bisnisnya ditengah perubahan yang terjadi.
Di tahun 2000-an pula, konsep resilience diusung sebagai konsep yang menggantikan (atau setidaknya melengkapi) makna keselamatan kerja.
Resilience yang dimaksud di sini berbicara tentang kinerja yang tangguh/ulet (resilient performance). Sebagaimana dijabarkan di buku keempat Erik Hollnagel berjudul Resilience Engineering in Practice (2010).
Ia mendefinisikan resilience sebagai "the intrinsic ability of a system to adjust its functioning prior to, during, or following changes and disturbances, so that it can sustain required operations under both expected and unexpected conditions."
Fokusnya pada menjaga operasional yang dibutuhkan dalam kondisi yang sudah dan belum diperkirakan.
Ada empat kapasitas yang harus dimiliki agar sebuah organisasi memiliki kinerja yang resilience.
Pertama, kemampuan untuk memonitor.
Dalam contoh praktis migas, misalnya di aktifitas pengeboran, kru perlu mengetahui parameter kritikal/penting, rentang normal operasi, atau gejala awal kondisi abnormal apa yang harus diperhatikan.
Untuk kejadian pengendalian sumur (well control) misalnya, tim memahami dan memantau gejala awal tendangan (kick) dari sumur berupa aliran balik volume lumpur (tingkat lumpur di tangki trip), laju penembusan pengeboran (rate of penetration), perubahan berat lumpur, atau munculnya gelembung gas dari sumur.
Kedua, kemampuan untuk mengantisipasi.
Potensi bahaya besar (major accident hazard) pengeboran bisa berupa blow-out (semburan/pelepasan mendadak gas/cairan tidak terkendali dari dalam sumur).
Maka antisipasi yang bisa dilakukan diantaranya yakni menyiapkan kecukupan lumpur berat (kill mud) dan keandalan alat pencegah semburan/Blow Out Preventer (BOP).
Ketiga, kemampuan untuk merespon.
Tim harus mampu merespon dengan tepat dan cepat ketika ada indikasi ketidaknormalan, bisa dengan melakukan pemeriksaan aliran sumur (flow check), penutupan sumur, melakukan sirkulasi lumpur berat, dst.
Kelihaian kemampuan ini dapat dicapai melalui pelatihan, sertifikasi kompetensi personil sesuai peran masing-masing, dan simulasi/drill berkala kondisi darurat.
Keempat, kemampuan untuk belajar.
Pembelajaran dapat dilakukan setelah ada kejadian aktual, catatan kejadian kick di sumur sebelumnya dengan struktur formasi batuan yang sama, atau evaluasi dari simulasi tanggap darurat.
Pembelajaran juga bisa didapat dari kejadian yang dialami sendiri maupun melalui safety alert/lesson learned yang dialami tim/organisasi lain di industri.
Kemampuan untuk belajar penting agar kita tidak mengulangi kejadian serupa dengan memastikan kesiapan-respon untuk kejadian yang sudah ataupun belum diperkirakan sebelumnya.
Demikianlah, pemahaman terhadap empat kapasitas ini, jika mau didetailkan dalam rencana kerja dan analisis bahaya, diharapkan bisa membantu dalam mencapai kinerja yang resilience.
Pembelajaran dapat dilakukan setelah ada kejadian aktual, catatan kejadian kick di sumur sebelumnya dengan struktur formasi batuan yang sama, atau evaluasi dari simulasi tanggap darurat.
Pembelajaran juga bisa didapat dari kejadian yang dialami sendiri maupun melalui safety alert/lesson learned yang dialami tim/organisasi lain di industri.
Kemampuan untuk belajar penting agar kita tidak mengulangi kejadian serupa dengan memastikan kesiapan-respon untuk kejadian yang sudah ataupun belum diperkirakan sebelumnya.
Demikianlah, pemahaman terhadap empat kapasitas ini, jika mau didetailkan dalam rencana kerja dan analisis bahaya, diharapkan bisa membantu dalam mencapai kinerja yang resilience.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar