17 Desember 2019

Victim Blaming

Tidak sedikit berita mengenai kecelakaan kerja yang kita dengar atau baca, biasanya menyalahkan pekerja sebagai akar penyebab kejadiannya. Human error, bahasa kerennya.

Dan umumnya, pekerja yang berbuat salah, adalah juga pekerja yang terluka.

Menyalahkan korban (victim blaming) karena tindakannya, tidaklah memberikan manfaat yang berarti, malah justru hanya menambah luka (psikologis) korban. Menambah beban mental.

Padahal hal itu (karena kesalahannya maka ia cedera atau bahkan meninggal) belum tentu benar.

Perlu kita pahami bahwa setiap orang bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang terbaik juga bisa berbuat salah (people are fallible, and even the best people make mistakes).

Salah satu dari 12 prinsip error management oleh Professor James Reason (penemu model Swiss Cheese) menyebutkan bahwa: the best people can make the worst mistakes (orang yang terbaik bisa jadi malah membuat kesalahan yang terburuk).

Jika seorang pekerja yang berbuat salah itu meninggal, kemudian masih juga disalahkan atas tindakannya, maka dimanakan empati anda terhadap keluarga korban yang ditinggalkan?

Hindari oversimplification (penyederhanaan berlebihan) suatu masalah.

Perlu dipahami keruwetan pekerja di lapangan dalam menjalankan detail tugas yang diembannya. Ada target pekerjaan, konflik kepentingan (antara produksi dengan keselamatan), tuntutan yang selalu berubah -dengan cepat, keterbatasan sumber daya di lapangan, keterlibatan banyak pihak, dan keterbatasan waktu dalam mengambil keputusan, serta keterbatasan informasi seiring berkembangnya tahapan pekerjaan.

Menyalahkan manusia itu mudah, memenuhi kebutuhan emosional, tapi tidak menyelesaikan masalah.

Berhati-hatilah untuk tidak menyalahkan korban (dan manusia yang terlibat) di dalam kejadian kecelakaan.


---000---

Jakarta, 25 Juli 2019
Syamsul Arifin, SKM. MKKK. Grad IOSH.
Praktisi K3LH Indonesia
www.syamsularifin.org

Postingan terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar