27 Juni 2024

Self-Fulfilling Prophecy dan Safety Differently

Self-fulfilling prophecy (ramalan yang akan terwujud nyata dengan sendirinya) merupakan konsep yang diinisiasi oleh sosiolog Amerika, William Isaac Thomas dan Dorothy Swaine Thomas (1928), yang kemudian dikembangkan dan menjadi tenar penamaannya karena Robert King Merton (1948). Secara sederhana, self-fulfilling prophecy menjelaskan bahwa ketika kita meyakini atau memiliki ekspektasi tertentu, terlepas benar atau salah, maka hal itu akan terwujud menjadi nyata. 

Penulis pertama kali mendengar istilah ini ketika mengambil mata kuliah dasar-dasar psikologi sekitar 20 tahun lalu. Penerapan istilah ini bisa mencakup banyak aspek, contohnya di pendidikan, jika seorang pengajar memprediksi/mencap bodoh muridnya ketika pertama bertemu karena menilai dari stereotip si murid (berasal dari keluarga miskin atau etnis suku tertentu), maka melalui interaksi sosial antar keduanya nanti, si murid akan bertingkah mengikuti predisi sang guru yang pada akhirnya akan membenarkan dugaan yang awalnya salah menjadi terwujud nyata.

Ada 2 tipe self-fulfilling prophecies, prophecies yang muncul dari dalam diri sendiri, yakni ketika ekspektasi/penilaian diri sendiri mempengaruhi tindakannya, dan prophecies yang muncul karena dorongan orang lain, yakni ketika ekspektasi/dugaan/omongan orang lain mempengaruhi tindakan seseorang. Semua pendapat/opini yang dianggap bermakna oleh seseorang bisa menjadi penyebab ramalan ini terwujud nyata.

 

Dalam dunia K3, saya jadi teringat perkembangan teori teranyar yang diusung oleh Profesor Sidney Dekker dari Universitas Griffith di Australia dengan konsep ‘safety differently’ (melihat keselamatan dengan cara berbeda). Istilah ‘safety differently’ lahir pada 2012 ketika beliau diminta pertimbangannya oleh sebuah organisasi yang kinerja keselamatannya tetap statis meskipun sudah semakin banyak birokrasi/dokumentasi dan persyaratan penaatan regulasi-peraturan-prosedur kerja.

Salah satu ide utama safety differently adalah bahwa pekerja lapangan (frontline) merupakan solusi -bukan penyebab- dari berbagai masalah keselamatan di tempat kerja. Gerakan pemikiran ini sejalan dengan konsep ‘safety-II’ dan ‘resilience engineering’ yang diusung oleh professor Erik Hollnagel dari Universitas Link√∂ping di Swedia namun dengan penekanan pada pengelolaan (governance) dan kepemimpinan inovatif organisasi.

Menyalahkan pekerja sebagai penyebab kecelakaan -salah satu bahaya yang harus dikendalikan- bisa ditelusuri jauh ke belakang. Dimulai dari perkembangan scientific management oleh Frederick Taylor dan suami-istri Gilbreths (1910an) yang menerapkan metode ilmiah dalam menentukan cara paling efisien untuk melakukan pekerjaan.

Kredo scientific management meyakini bahwa pekerja harus mematuhi satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan guna meningkatkan efisiensi (dan menjamin keselamatan). Hal itu dilakukan melalui kontrol terhadap pekerja melalui kepatuhan terhadap prosedur, pemaksaan/hukuman jika tidak mematuhinya, dan melalui pengawasan hirarki/atasan.

Mentalitas ini diperkuat oleh Herbert William Heinrich (1930an) melalui teori dominonya. Asisten superintendent perusahaan asuransi ini menganalogikan susunan domino untuk menjelaskan penyebab kecelakaan. Awalnya, domino pertama yang jatuh yaitu faktor keturunan dan kondisi sosial (ancestry and social environment) yang kemudian memunculkan karakter yang lemah pada pekerja semisal mudah marah, cuek, atau tidak peduli. Karakter lemah ini mengakibatkan kondisi tidak selamat, bahaya mekanik dan tindakan tidak selamat. Kemudian hal tersebut mengarah menjadi kecelakaan yang menimbulkan cedera dan kematian.

Awalnya, Heinrich memfokuskan intervensi pencegahan kecelakaan dengan memperbaiki faktor kondisi fisik dan pelindung (safeguard) di tempat kerja, namun di akhir karirnya, ia menggeser fokus perhatian menjadi menghilangkan tindakan tidak selamat (unsafe act) yang dilakukan pekerja. Sampai saat ini, pengaruh pola pikir Heinrich bisa kita lihat pada program Behavior-Based Safety (BBS).

Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, dominasi pendekatan psikologi behavioristik (program BBS) mulai memudar. Para pemikir dan praktisi K3 menyadari bahwa kesalahan manusia merupakan hal yang normal. Hal itu didukung oleh perkembangan ilmu human factors (1940an) yang menggunakan perspektif kesisteman atau interkoneksi yang ada di sistem kerja (manusia, pekerjaan, dan kondisi lingkungan/organisasi).

Apalagi di zaman sekarang ini, dengan semakin berkembangnya sistem kerja. Kita sepatutnya melihat peran manusia dalam sistem teknologi yang kompleks dengan cara/sudut pandang yang berbeda. Manusia -terutama pekerja frontline- seharusnya bukan lagi dipandang sebagai sumber masalah, tapi sebagai penerima masalah yang diinisiasi akibat desain peralatan, pekerjaan, teknologi, kondisi lingkungan kerja, dan organisasi yang tidak sempurna, serta adanya keterbatasan sumber daya dan tekanan fokus kepentingan dari berbagai tingkat socio-technical.

Pandangan keliru tentang pekerja perlu diluruskan, manusia bukanlah sumber masalah tapi sumber solusi dari masalah keselamatan di tempat kerja. Sehingga kosa kata atau pendekatan yang dipergunakan praktisi K3 seharusnya mulai bergeser dari fokus pada hal negatif dan bersifat koersif, menjadi bersifat positif seperti pemberdayaan keanekaragaman manusia yang humanis.

Albert Einstein sering disandingkan dengan kutipan ini, “we cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them”. Kita telah membuat banyak kerusakan di tempat kerja dengan menganggap bahwa pekerja (manusia) adalah sumber masalah. Ketidakpercayaan, kekecewaan, hilangnya inisiatif untuk menyampaikan ide/pendapat, keengganan untuk melapor, rasa inferior, ketakutan, dst.

Jika kita terus melihat pekerja sebagai sumber masalah, tidak bisa move-on dengan mengikuti perkembangan keilmuan terkini yang disusun berdasarkan data dan fakta, masih terus berusaha menyelesaikan masalah hari ini dengan solusi masa lalu, maka sudah sewajarnya kecelakaan kerja akan terus ada.

 

---000---


Referensi:

·       Sidney Dekker. 2014. Employees: a problem to control or solution to harness? Professional Safety

·       Sidney Dekker. 2015. Safety differently: human factors for a new era. CRC Press

·       Sidney Dekker. 2019. Foundations of safety science. CRC Press

·       Erik Hollnagel. 2013. A tale of two safeties. Nuclear Safety and Simulation, Vol. 4

·       Erik Hollnagel, dkk. 2013. From safety-I to safety-II: a white paper. EUROCONTROL

·   Erik Hollnagel. 2014. Safety-I and safety-II: the past and future of safety management. Ashgate Publishing.

 

Penyusun:

Syamsul Arifin, SKM. MKKK. Cert IOSH.

Praktisi K3LH




Artikel ini dimuat juga di Majalah Isafety edisi April 2024


Versi bahasa Inggris artikel ini dimuat juga di Majalah Isafety edisi April 2024 (versi Bahasa Inggris)

Postingan terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar