Pembagian pelaku Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) dapat diilustrasikan dengan dua pulau di laut yang sama. Di satu
pulau dipenuhi para akademisi, peneliti, ilmuwan, dan profesor yang ada di universitas
atau lembaga pendidikan yang memiliki jurusan K3, pusat penelitian atau kajian
yang melakukan riset, konferensi, penulisan makalah dan buku K3.
Di pulau lain, ada para praktisi yang tersebar di sektor industri primer (ekstraksi dan pemanfaatan sumber daya alam), sekunder (pengolahan atau memproses bahan mentah dari industri primer menjadi barang jadi atau produk setengah jadi), dan tersier (penyedia jasa dan layanan ke konsumen), dan kuater (pendukung sektor lain berbasis teknologi informasi dan pengetahuan), termasuk praktisi yang ada di pemerintahan.
Orang umum mungkin akan berpikir bahwa ada banyak jembatan dan kapal feri yang menghubungkan antara kedua pulau tersebut. Para peneliti atau akademisi berbagi hasil penelitian (teori, metode, atau data) ke para praktisi sehingga bisa menghasilkan keputusan atau program kerja di lapangan yang berwawasan (insightful); para praktisi memberikan pertanyaan atau umpan balik ke para peneliti atau akademisi sehingga penelitian akan mengarah ke masalah nyata dan memberikan luaran (output) yang dapat digunakan di lapangan.
Sayangnya, ternyata ada celah lebar antara ke dua pulau ilmu dan praktik. Studi yang dilakukan di bidang kesehatan (keperawatan, terapi okupasi, terapi wicara, fisioterapi, gizi, publik/masyarakat), psikologi industri (Sumber Daya Manusia dan organisasi), perpustakaan dan ilmu informasi, serta human factors (HF) atau ergonomi menunjukkan hal ini.
Ada perbedaan signifikan antara akademisi dan praktisi atau terbaginya blok antara ilmuwan dengan profesional K3. Secara mendasar, temuan signifikannya yaitu para akademisi dan praktisi tidak saling memperhatikan aktifitas dan luaran satu sama lain.
Secara detail, celah antara keduanya yaitu: penelitian atau makalah yang terbit didominasi oleh akademisi/peneliti dari universitas dan minim diikuti oleh praktisi; penelitian yang dilakukan sering tidak nyambung dengan masalah praktis yang ada di industri atau lapangan kerja secara riil; pendekatan yang digunakan praktisi sering dicap tidak sesuai kaidah metodologi ilmiah yang kaku sedang metodologi penelitian kampus juga dipandang tidak praktis; dan pada praktisi minim akses ke portal jurnal hasil penelitian sehingga jarang menggunakan informasi terbaru serta sering tidak (mau) mengaplikasikan teori/ilmu baru dalam pekerjaannya.
Mengapa hal itu terjadi? Ternyata hal tersebut terjadi karena adanya latar belakang yang berbeda dari kedua belah pihak.
Praktisi K3 yang ada di industri umumnya mempunyai latar belakang pengalaman kerja dari tataran operasional pelaksana, dari teknisi lapangan yang dipromosikan ke posisi K3; latar belakang pendidikan praktisi K3 yang bervariasi, sebagian besar tidak memiliki kaitan keilmuan K3 namun memiliki sertifikasi K3; mendalami ilmu K3 dari pengalaman singkat di kelas pelatihan dan pembelajaran lapangan (on-the-job training); dan bacaan praktisi yang berupa standar dan recommended practices industri, peraturan pemerintah atau regulasi, laporan internal & eksternal organisasi; serta biasa menggunakan perangkat lunak (software) perusahaan yang tersentralisasi dari perusahaan induknya.
Sementara itu, dari sisi akademisi atau peneliti K3 memiliki latar belakang pendidikan tinggi dengan ijazah minimal master di bidang yang relevan dengan ilmu K3; mempunyai tuntutan pekerjaan untuk publikasi ilmiah demi kenaikan golongan, mendapatkan dana hibah, atau peningkatan peringkat universitas; dan umumnya menggunakan metode dan alat yang rumit.
Secara sederhana, jika menggunakan kerangka People, Activities, Contexts and Tools (PACT), dapat disimpulkan bahwa (People) akademisi dan praktisi K3 memiliki latar belakang (tingkat pendidikan dan pengalaman industri) dan aspirasi yang berbeda, (Activities) melakukan aktifitas yang berbeda karena didorong oleh tuntutan yang tidak sama, membaca referensi yang berbeda meski bisa jadi ada sedikit tumpang tindih, (Context) dibentuk oleh tujuan, nilai, tuntutan, insentif, sumber daya, batasan, dan lingkungan yang berbeda, dan (Tools) menggunakan atau menghargai nilai alat yang berbeda dalam melakukan aktifitasnya.
Para praktisi K3 memiliki beberapa kebutuhan untuk melakukan pekerjaannya, diantaranya untuk memenuhi kepatuhan regulasi, mengimbangi perubahan persyaratan regulasi; melakukan investigasi kecelakaan yang baik dengan memberikan umpan balik atau rekomendasi dan menangani kecelakaan berulang; menumbuhkan komitmen manajemen manajemen dan keterlibatan pekerja melalui program pendekatan yang efektif; menjaga kecukupan sumber daya dalam pelaksanaan pekerjaan secara produktif namun tetap selamat; bisa berkomunikasi dengan efektif dengan pihak internal dan eksternal; dan menangani konflik atau hubungan yang sulit dengan pihak-pihak dari internal atau eksternal; serta memahami isu baru kontemporer di industri.
Para praktisi K3 memiliki tantangan dalam membaca makalah atau artikel ilmiah. Misalnya dikarenakan adanya hambatan akses portal jurnal berbiaya langganan yang tinggi; tidak memiliki cukup waktu untuk membaca, atau bacaan ilmiah yang tidak mudah dipahami; dan dalam konteks pekerjaan, tidak ada insentif bagi yang tahu lebih banyak; serta tidak ada yang mengharuskan untuk membaca, terlibat, atau menerbitkan makalah ilmiah.
Guna menjembatani kedua pulau antara praktisi dan akademisi K3, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Di antaranya melakukan kolaborasi penelitian antara kedua belah pihak; melakukan penelitian yang relevan bagi praktisi; membina akademisi yang memiliki atau terpapar dengan berpengalaman industri; melakukan distribusi atau publikasi makalah yang gratis dengan lebih luas, di kanal komunikasi yang lebih variatif; penggunaan bahasa yang lebih mudah dipahami; memastikan adanya implikasi praktis penelitian yang lebih jelas; dan membaca lebih banyak serta berusaha memasukkannya ke dalam materi pelatihan atau prosedur yang dikembangkan perusahaan.
---000---
Referensi: Jean-Christophe Le Coze. 2020. Safety
Science Research: Evolution, Challenges and New Directions. CRC Press.
![]() |
| Artikel ini dimuat di Majalah Katiga edisi Agustus-Oktober 2026 |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar