13 Februari 2026

Mengidentifikasi Bahaya dan Jebakan Kesalahan (Error-Trap)

Hampir 50% kecelakaan kerja diakibatkan oleh buruknya penilaian risiko (risk assessment) yang disebabkan oleh ketidakmampuan pekerja untuk mengidentifikasi bahaya. Sering dikatakan kalau kemampuan mengenali bahaya berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman seseorang, namun sebuah penelitian yang dilakukan pada penambang ketika mengidentifikasi bahaya menunjukkan hasil mencengangkan, pekerja lapangan yang terbaik (memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tinggi) gagal untuk mengidentifikasi 50% bahaya di tempat kerjanya.

Pekerja cenderung mengidentifikasi bahaya yang mudah terlihat dan umum dikenali, namun kesulitan dalam mengidentifikasi bahaya yang tersembunyi atau melekat pada aktifitas kerja tertentu. Akan tetapi, ketika dibantu dengan daftar sumber energi dan diminta untuk mengidentifikasi bahaya, kemampuan untuk mengenali bahaya yang terlihat maupun yang tersembunyi meningkat sampai lebih dari 30% dibandingkan pekerja yang tidak dibekali dengan daftar sumber bahaya.

Daftar sumber bahaya yang umum tersebut ada 10, yakni gravitasi (contohnya benda jatuh, rubuhnya atap, tersandung), gerakan (misalnya gerakan kendaraan, aliran air, angin, beban yang diangkat), mekanikal (benda berputar, roda berjalan, motor), elektrikal (saluran listrik, listrik statik, petir), tekanan (gas bertekanan, tangki, selang), bahan kimia (uap, asap, debu), biologi (binatang, bakteri, virus, serangga), radiasi (sinar las, sinar-x, gelombang mikro), dan suara (kebisingan peralatan, getaran, dst).

Karena itu, saat ini banyak perusahaan yang menggunakan alat bantu roda energi (energy wheel) untuk mengilustrasikan sumber energi dan mempermudah pekerja dalam melakukan identifikasi bahaya.

Sayangnya, dengan kompleksitas pekerjaan saat ini, kemampuan mengidentifikasi bahaya saja tidak cukup untuk membuat pekerjaan menjadi selamat.

Ketika seorang pekerja berangkat ke lapangan untuk melakukan tugasnya, rencana kerja yang dibayangkan (work-as-imagined) bisa jadi berbeda dengan pekerjaan yang akhirnya harus diselesaikan (work-as-done). Bisa jadi ada hal di dalam langkah pekerjaan, lingkungan kerja, atau peralatan yang tidak sesuai dengan rencana.

Misalnya kondisi cuaca yang berubah menjadi hujan/badai, mempengaruhi komunikasi, peralatan, dan pergerakan orang; ada anggota tim kerja yang sakit tidak masuk kerja sehingga jumlah tim berkurang atau kompetensi yang diperlukan menjadi tidak hadir; jadwal pekerjaan yang mundur dari rencana, sehingga akhirnya tim menjadi diburu-buru untuk menyelesaikan tepat waktu; peralatan yang tidak tersedia atau berbeda dari rencana awal, akibatnya pekerjaan harus dilakukan dengan cara yang tidak sesuai perencanaan; kru yang baru tiba di lokasi larut malam, sehingga mengalami kelelahan dan mungkin rentan berbuat salah atau tidak termotivasi; dst.

Kita dapat menamakan kondisi tersebut sebagai error-producing condition, performance influencing factors, flag condition, error trap, atau semisalnya. Kondisi yang dapat mempengaruhi kinerja manusia, umumnya secara negatif meski bisa juga menjadi positif.

Kondisi yang mungkin membuat pekerja berbuat salah tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa faktor: pekerjaan (terlalu rumit, salah peralatan, prosedur tidak memadai), lingkungan kerja (terlalu bising, terlalu panas, terlalu dingin), individu (kelelahan, terlalu tinggi, terlalu pendek, tidak terlatih), dan organisasi (tidak memadainya jumlah pengawas, kurangnya jumlah pekerja, tekanan waktu, dst).

Jebakan kesalahan tersebut bisa jadi kecil dan bisa ditangani oleh pekerja secara efektif tanpa konsekuensi berarti, namun jika ada jebakan kesalahan yang besar atau banyak jebakan kecil yang muncul bersamaan, potensi pekerja berbuat salah menjadi semakin besar, yang akhirnya dapat berujung kecelakaan.

Pekerja akan dihadapkan pada dilema, apakah harus menghentikan pekerjaan dan melakukan perencanaan ulang, atau melakukan adaptasi/penyesuaian yang berbeda dari prosedur/rencana kerja agar pekerjaan dapat diselesaikan -yang nanti akan dianggap sebagai ketidakpatuhan/pelanggaran oleh perusahaan.

Jika jebakan kesalahan dapat diidentifikasi ketika penilaian risiko atau dikenali pekerja sebelum, ketika, atau bahkan setelah bekerja, maka potensi jebakan yang dapat mengakibatkan kesalahan pekerja dapat dikurangi atau dihilangkan.

Maka dari itu, mengintegrasikan faktor manusia (human factors) dalam proses kaji risiko, dapat dilakukan dengan sedikit memodifikasi langkah pelaksanaan kajian risiko menjadi identifikasi bahaya termasuk potensi kesalahan manusia (human error) dan jebakan kesalahan, penilaian risiko, pengendalian, pencatatan temuan, dan tinjauan kontrol.

Untuk dapat mengidentifikasi potensi kesalahan manusia, ketika melakukan kaji risiko, tim perlu menanyakan kesalahan apa yang mungkin terjadi ketika melakukan pekerjaan? Bagaimana seorang pekerja akan berbuat salah? Kesulitan atau kesalahan apa yang pernah terjadi sebelumnya ketika melakukan pekerjaan?

Jika potensi kesalahan teridentifikasi, periksa daftar kondisi yang mungkin membuat pekerja berbuat salah untuk mendalami situasi yang paling sering membuat pekerja berbuat salah.

Dalam faktor pekerjaan, beberapa hal yang dapat membuat jebakan kesalahan bisa berupa ketidakjelasan tanda/signal/instruksi, antar muka (interface) sistem atau peralatan (label, alarm), kesulitan langkah kerja, jenis pekerjaan (rutin atau jarang dilakukan), pengalih perhatian, prosedur yang tidak memadai/tidak sesuai, ketersediaan waktu, kesesuaian peralatan, komunikasi (antar pekerja, dengan atasan, kontraktor lain), dan lingkungan kerja (kebisingan, panas, ruangan, pencahayaan, ventilasi)

Sedang faktor individu yang dapat membuat jebakan kesalahan dapat berupa kondisi atau kemampuan fisik, keletihan/fatigue (akut ataupun kronik), tekanan/stress, beban kerja (overload atau underload/kebosanan), kompetensi/pelatihan, dilema (motivasi kerja vs prioritas lain, tekanan sebaya/peer pressure dalam melaporkan kecelakaan).

Dan faktor organisasi yang dapat mengakibatkan jebakan kesalahan yaitu trade-off/tukar guling (tekanan pekerjaan, produktivitas vs keselamatan, keterbatasan waktu pekerjaan), gaya kepemimpinan/pengawasan, komunikasi, tingkat keterisian organisasi/manning (kecukupan personil untuk melaksanakan pekerjaan), , kejelasan peran dan tanggung jawab, konsekuensi kalau tidak mematuhi prosedur/peraturan, efektivitas pembelajaran organisasi, budaya keselamatan perusahaan (misalnya apakah seluruh orang sering melanggar peraturan, dll).

Alat bantu roda energi (energy wheel) yang dikombinasikan dengan daftar jebakan kesalahan (error trap) dalam satu gambar dapat membantu memudahkan pekerja untuk melakukan kaji risiko yang menyeluruh, mengeidentifikasi bahaya dan jebakan kesalahan.

Di tengah (warna oranye) ada daftar bahaya atau sumber energi, kemudian lingkar di luarnya ada daftar jebakan kesalahan yang dikelompokkan menjadi faktor pekerjaan (warna merah muda), individu (warna hijau), dan organisasi (warna biru).

Semua bahaya dan jebakan kesalahan yang sudah teridentifikasi harus dikendalikan untuk menurunkan risikonya sampai tahapan ALARP (As Low As Reasonably Practicable) atau AFAIRP (As Far As Is Reasonably Practicable).

Umum digunakan hirarki pengendalian berupa eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administratif, dan alat pelindung diri (APD). Pendekatan ini dapat juga diterapkan untuk mengendalikan jebakan kesalahan.

Contoh eliminasi untuk jebakan kesalahan yaitu dengan tidak melakukan pekerjaannya, sedang contoh subtitusi yakni dengan melakukan otomatisasi (mengganti manusia dengan robot).

Contoh rekaya teknik untuk jebakan kesalahan bisa berupa melakukan desain ulang agar lebih baik, memaksakan alur/fitur/langkah dalam peralatan, atau sistem penguncian otomatis. Sementara itu, contoh pengendalian administratif bisa berupa mengubah cara kerja dengan mengubah prosedur/langkah kerja, penetapan waktu kerja, tingkat pengawasan, personil, pemeriksaan ulang/verifikasi pekerjaan, atau penggunaan izin kerja.

Berikut adalah contoh cuplikan kajian risiko yang sudah mengintegrasikan identifikasi jebakan kesalahan.

Kaji risiko umumnya dilakukan pada tahap perencanaan pekerjaan dan diperlukan sebelum memulai pekerjaan. Terkadang, dokumen kajian risiko yang digunakan sering tidak sesuai dengan kondisi aktual lapangan, untuk itu ada beberapa program/alat/tools lapangan yang dapat digunakan untuk melengkapi kekurangan kaji risiko.

Alat/program yang dapat digunakan sebelum memulai pekerjaan (pre-work) contohnya Last minute risk assessment (kaji risiko di menit-menit akhir sebelum memulai pekerjaan). Sementara itu, alat/program yang dapat digunakan ketika pelaksanaan pekerjaan (work execution) misalnya 15-second scan (15 detik memindai bahaya), look, point, call out (umum digunakan pada industri perkeretaapian), self-check (jeda sesaat ketika bekerja), peer check (pemeriksaan pekerjaan oleh orang lain), dan stop work authority (kewenangan menghentikan pekerjaan). Sedangkan alat/program yang dapat digunakan setelah pekerjaan (work completion) bisa berupa independent verification (verifikasi hasil pekerjaan oleh pihak ketiga) dan post-job brief (briefing setelah pekerjaan).

 

---000---

Penyusun:

Syamsul Arifin, SKM. MKKK. Cert IOSH.

Praktisi K3LH

www.syamsularifin.org

 

Referensi:

Energy Institute. 2025. Guidance on human factors in task-based risk assessment. London, Inggris.

 

Tulisan ini dimuat juga di Majalah Katiga:

Majalah Katiga, edisi Desember 2025-Januari 2026

Postingan terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar